Menerapkan Produksi Massal

  1. Pengertian Produksi Massal

Sebuah kegiatan yang dilakukan secara berulang dalam membuat suatu produk dalam jumlah yang banyak merupakan produksi secara massal.

Produsen akan melakukan kegiatan produksi ini secara terus menerus guna menjalankan sistem produksi dan memenuhi kebutuhan pasar. Dan memfasilitasi kebutuhan masyarakat akan suatu barang atau produk.

Fokus dari produksi dalam jumlah banyak ini sebagai suatu cara untuk meningkatkan efisiensi produsen dalam melakukan kegiatan produksi yang disesuaikan dengan standar serta prosedur. Dan hal tersebut dilakukan guna menciptakan suatu barang secara banyak dalam satu waktu.

Dalam menjalankan proses produksi, sebuah perusahaan akan melakukannya terus menerus dengan jumlah yang banyak. Dalam pengadaan barang atau produk selain memakai jasa pekerja juga memakai kecanggihan teknologi. Misalnya sebuah perusahaan yang menghasilkan produk permen, maka dibutuhkan bantuan mesin untuk memperbanyak produk.

Dalam kegiatan produksinya terukur dan terarah, yaitu dalam satu hari menghasilkan jumlah yang sama dengan sistem dan standar yang sudah ditentukan. Seperti memproduksi boneka, maka dalam satu hari bisa menghasilkan boneka dengan sebelumnya dilakukan uji keamanan dan kelayakan untuk anak-anak.

Banyak aturan yang dilakukan dalam menghasilkan produksi dalam jumlah banyak ini, karena perusahaan tentu mengutamakan mutu dan kualitas suatu produk yang akan dihasilkan. Dengan memahami pengertian tersebut maka selanjutnya perlu memahami tahapan apa saja yang dilakukan dalam proses produksi massal.

2. Klasifikasi Produksi Massal

a. Barang Konsumen

Barang Konsumen adalah barang yang dikonsumsi untuk kepentingan konsumen akhir (individu atau rumah tangga), dan bukan untuk kepentingan bisnis, barang konsumen dapat dibedakan menjadi empat jenis yaitu:

  1. Convenience Goods merupakan barang yang pada umumnya memiliki frekuensi pembelian yang tinggi (sering dibeli), dibutuhkan dalam waktu segera dan memerlukan usaha yang minimum dalam perbandingan dan pembelianya. 
  2. Shooping Goods adalah barang yang proses pemilihan dan pembelianya, dibandingkan oleh konsumen diantara berbagai alternatif yang tersedia. Kriteria pembanding meliputi harga, kualitas, dan model masing-masing. Contohnya: alat rumah tangga, pakaian, dan kosmetik.
  3. Speciality goods adalah barang yang memiliki karakteristik atau identifikasi merek yang unik dimana sekelompok konsumen bersedia melakukan usaha khusus untuk membelinya. Umumnya jenis barang ini terdiri atas barang-barang mewah, dengan merek dan model yang spesifik, seperti mobil jaguar dan pakaian desain terkenal.
  4. Unsought goods adalah barang yang tidak diketahui oleh onsumen atau kalaupun sudah diketahui oleh konsumen,  konsumen belum tentu tertarik untuk membelinya. Contohnya: batu nisan, ensiklopedi, dan tanah pekuburan.
b. Barang industri

Barang industri adalah barang yang di konsumsi oleh industriawan (konsumen antara atau konsumen bisnis). Barang industri digunakan untuk keperluan selain di konsumsi langsung yaitu: untuk diolah menjadi barang lain atau untuk dijual kembali. Barang industri dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu:

  1. Material and part, merupakan barang yang seluruhnya atau sepenuhnya masuk ke dalam produk jadi. Kelompok ini dibagi menjadi dua kelas yaitu bahan baku serta bahan jadi dan suku cadang.
  2. Capital Items, merupakan barang tahan lama (long Lasting) yang memberi kemudahan dalam mengembangkan atau mengelola produk jadi.
  3. Supplies and service, merupakan barang yang tidak tahan lama serta jasa yang memberi kemudahan dalam mengembangkan atau mengelola keseluruhan produk jadi.

3. Cara Penerapan Produksi Massal

1. Menentukan ide Produk

Tahap produksi pertama yang harus dilakukan adalah menentukan jenis-jenis produk yang akan diciptakan. Kumpulkan beberapa sampel yang didapat dari hasil musyawarah dengan rekan kerja, maupun potensi yang dirasa akan mampu berkembang pesat. Selain itu, Jenis-Jenis yang dikumpulkan juga harus sesuai dengan Modal usaha yang ada, serta bagaimana pandangan masyarakat di daerah tempat usaha terhadap produk tersebut nantinya. Misalkan anda akan buka usaha jualan minuman jus buah. Nah, pilih jenis buah yang potensial dan dirasa akan laku keras. Tolok ukur pemilihan jenis produk juga bisa berdasarkan keadaan cuaca, iklim dan kompetitor yang ada.

Karena umumnya, cuaca dan iklim sangat Berpengaruh terhadap minat beli dari konsumen, sebab jika musim hujan, tentu penjual jus buah / aneka minuman akan sedikit mengalami hambatan penjualan.

Untuk tolok ukur dari segi internal, pertimbangan yang bisa dijadikan acuan adalah :

  • Kebutuhan Konsumen
  • Teknologi peralatan produksi
  • Koordinasi dengan rekan kerja

Jika beberapa jenis buah untuk diproduksi telah ditentukan, saatnya melangkah ke tahap perencanaan produksi selanjutnya.

2. Memilih yang paling cocok

Selanjutnya adalah menentukan 1 ide yang paling relevan berdasarkan tolok ukur diatas tadi. Disini berarti anda harus menentukan jenis-jenis buah apa saja yang akan dibeli ke pemasok.

Pada tahap ini, juga memiliki beberapa tolok ukur, antara lain :

  • Kemampuan Operasional
  • Pembelian bahan baku
  • Anggaran biaya Pemasaran sekitar lokasi pasar

Gabungkan ke-3 tolok ukur diatas untuk mendapatkan jawaban yang spesifik dan relevan.
Mulai dari kemampuan operasional, bagaimana anda dan rekan kerja mampu menghasilkan jus buah yang akan digemari.

Begitu juga dengan pembelian bahan baku yakni Buah-buahan, harus disesuaikan dengan budget yang ada.

Juga biaya pemasaran, seperti biaya cetakan kemudian menyebar Pamflet di sekitar pasar / lokasi usaha, dengan menempel di beberapa tempat yang ramai.

3. Prototipe

Pengertian prototipe adalah penganalisaan produk jadi yang telah dihasilkan. Jus buah yang sudah siap produksi harus diuji dulu, baik dari segi kemasan dan rasanya.

Tujuannya untuk mengetahui apa saja kelemahan dan kelebihan minuman tersebut.

Jika ditemukan kekurangan, perbaiki secepatnya. Selain itu, untuk mengupayakan bagaimana supaya produk anda mampu bersaing dengan kompetitor yang tentunya sudah berpengalaman.

Oleh karena itu, anda diusahakan menciptakan produk minuman yang unik, berbeda dan menarik, namun tidak melenceng dari hakikat sebuah minuman jus buah, supaya konsumen anda tidak merasa aneh nantinya.

4. Testing

Tahap Perencanaan Produksi selanjutnya yakni melakukan pengetesan kelayakan terhadap produk, setelah melakukan analisis produk jadi pada tahap ke-3.

Disini akan ditemukan hasil baru yang tentunya lebih baik dari sebelumnya.

Pada sesi ini, nantinya akan didapatkan krputusan tentang kelayakan produk, apakah pantas atau tidak untuk diperjualbelikan secara umum.

5. Final Design

Setelah proses testing selesai, Tahap Perencanaan Produksi Produk selanjutnya yakni menilai bentuk desain, mulai dari kemasan dan pendukung lainnya.

Semua harus sesuai dan relevan dengan perencanaan yang disusun di awal.

6. Implementation

Yang ke-6 adalah Penerapan (implementasi). Ini adalah Tahap produksi terakhir. Setelah dilakukan penerapan dan dirasa sudah kompleks, maka anda bisa untuk segera melakukan produksi.

4. Rancangan Produksi Massal

  1. Kualitas Produk

Seberapa baik produk yang dihasilkan dari upaya pengembangan dan dapat memuaskan kebutuhan pelanggan. Kualitas produk pada akhirnya akan mempengaruhi pangsa pasar  dan menentukan harga yang ingin dibayar oleh pelanggan.

  1. Biaya Produk

Biaya untuk modal peralatan dan alat bantu serta biaya produksi setiap unit disebut biaya manufaktur dari produk. Biaya produk menentukan berapa besar laba yang dihasilkan oleh perusahaan pada volume penjualan dan harga penjualan tertentu.

  1. Waktu Pengembangan Produk

Waktu pengembangan akan menentukan kemampuan perusahaan dalam berkompetisi,menunjukkan daya tanggap perusahaan terhadap perubahan teknologi dan pada akhirnya akan menentukan kecepatan perusahaan untuk menerima pengembalian ekonomis dari usaha yang dilakukan tim pengembangan.

  1. Biaya Pengembangan

Biaya pengembangan biasanya merupakan salah satu komponen yang penting dari investasi yang dibutuhkan untuk mencapai profit.

5. Tahapan Produksi Massal

Dokumentasi Persyaratan Produk

Manajer Produk bertanggung jawab untuk memimpin dan membuat dokumen ini, tetapi mereka harus meminta masukan dan persetujuan akhir dari semua pemimpin tim lainnya: Teknik, Penjualan, QA, Eksekutif, dan Pemasaran.

Setelah revisi dokumentasi persyaratan produk disetujui oleh semua pimpinan tim ini, hal itu menjadi landasan Anda dan semua keputusan produk selanjutnya harus sesuai dengan apa yang tertulis di  dokumentasi ini.

Anda juga dapat  meratifikasi dan membuat revisi berikutnya saat informasi baru tersedia yang memengaruhi keputusan Anda sebelumnya, tetapi setiap revisi baru harus ditinjau dan disetujui oleh pimpinan tim, juga.

Dokumentasi persyaratan produk atau yang biasa dikenal dengan PRD (Product Requirements Documentation) biasanya terkait dengan:

  • Daftar lengkap fitur yang akan disertakan dalam produk
  • Metrik kinerja spesifik yang harus dipenuhi setiap fitur
  • Perkiraan volume produksi
  • Biaya target
  • Targetkan jadwal rilis produk
  • Roadmap produk

Validasi dan Pengujian Teknik

Berikutnya adalah bagian yang menyenangkan, yang lebih dikenal sebagai validasi dan pengujian teknik atau EVT (Engineering Validation and Testing).

Dalam tahap ini, tim teknik menggunakan cara apa pun yang diperlukan untuk mengimplementasikan setiap fitur yang diuraikan dalam dokumentasi persyaratan produk.

Tujuan dari tahap ini adalah untuk membuktikan bahwa adalah mungkin secara manusiawi, tanpa menentang hukum fisika, untuk merancang dan membangun sebuah instance dari produk yang memenuhi persyaratan fungsional dalam PRD.

Namun perlu diingat bahwa komponen yang dipilih dan proses yang digunakan untuk merakitnya tidak harus sama dengan yang akan digunakan di versi final produk. Selotip dan lem panas boleh digunakan pada tahap ini, selama memungkinkan Anda membuat sesuatu yang berfungsi secara fungsional dan melewati metrik spesifikasi Anda.

Tujuan utama dari Validasi dan Pengujian Teknik adalah untuk mengidentifikasi setiap dan semua risiko dari persyaratan yang diuraikan dalam PRD dan menemukan cara untuk menghilangkan atau menguranginya secara signifikan.

Ini mungkin memerlukan beberapa iterasi dan jutaan dolar dalam penelitian dan pengembangan, tetapi sebuah produk tidak akan meninggalkan tahap EVT sampai semua persyaratan fungsional dan metrik kinerja telah dipenuhi.

Validasi dan Pengujian Desain

Pada tahap validasi dan pengujian desain atau DVT (Design Validation and Testing), tujuannya adalah untuk terus bekerja menuju tampilan dan nuansa akhir produk.

Ini adalah saat Anda mulai memilih bahan dan desain mekanis yang memenuhi persyaratan bentuk akhir, kesesuaian, dan estetika yang diuraikan dalam PRD.

Bahan dan komponen yang dipilih dalam revisi ini merupakan bahan yang dipakai pada versi produksi akhir. Jika memungkinkan, contoh produk Anda yang dibuat dalam tahap DVT dapat ditampilkan kepada calon pelanggan untuk mulai meminta umpan balik dan menguji kesesuaian pasar produk.

Ini sebenarnya adalah poin berharga untuk dilakukan pada tahap ini sebelum Anda mulai menginvestasikan dana modal yang besar untuk bahan, peralatan, dan proses yang diperlukan untuk memulai pembuatan.

Sebuah produk dapat keluar dari tahap DVT setelah ada persetujuan yang dibuat dan memenuhi semua persyaratan fungsional dan estetika di PRD saat menggunakan desain dan komponen kandidat untuk produksi akhir.

Versi ini sebenarnya mungkin sangat dekat dengan implementasi produk akhir Anda dan tidak dapat dibedakan oleh mata yang tidak terlatih, tetapi mungkin dibuat dengan proses produksi dan perakitan dengan volume lebih rendah.

Validasi dan Pengujian Produksi

Sekarang saatnya melepaskan kendali dan terlibat dalam percakapan serius dengan pemasok dan produsen Anda. Ini adalah tahap validasi dan pengujian produksi atau PVT (Production Validation and Testing) atau pre-produksi di mana Anda memastikan bahwa produk DVT Anda sebenarnya dapat diproduksi dengan volume dan biaya target yang tercantum dalam PRD.

Karena lebih sering daripada tidak Anda akan melakukan outsourcing pembuatan dan perakitan produk Anda yang sebenarnya, Anda harus terlibat dengan pemasok ini untuk meminta feedback dari desain Anda untuk memastikan Anda dapat mencapai tujuan produksi.

Mudah-mudahan ini hanya memerlukan beberapa perubahan kecil pada model DVT Anda, seperti mengganti bagian dengan versi yang lebih murah yang kompatibel dengan pin atau sedikit mengubah sudut draf pada bagian mekanis khusus sehingga akan mengeluarkan lebih andal dari alat cetakan injeksi.

Namun, dalam beberapa skenario kasus terburuk, Anda mungkin harus melalui perbaikan besar-besaran atau perubahan desain agar produk Anda siap untuk produksi massal.

Untuk alasan ini, yang terbaik adalah mulai berbicara dengan pemasok Anda jauh sebelum Anda memasuki tahap PVT, sehingga Anda dapat membantu memastikannya akan berhasil dengan memasukkan beberapa Desain untuk Manufaktur, Desain untuk Perakitan, Desain untuk Pengujian. Ini adalah prinsip upstream dalam siklus hidup produk.

Tujuan lain dari tahap PVT adalah untuk mulai memperkuat proses produksi dan menyiapkan rantai pasokan. Cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan membuat proses praproduksi produk Anda menggunakan rantai pasokan dan aset manufaktur yang sebenarnya.

Ini adalah cara terbaik untuk melihat di mana kelemahannya dalam ekosistem produksi Anda dan menentukan apakah Anda siap untuk mulai meningkatkan volume dan meningkatkannya hingga.

Untuk keluar dari PVT, pabrikan harus menandatangani bahwa rantai pasokan sudah diatur. Ini berarti suku cadang dapat dipesan pada waktu tunggu dan harga yang dapat diterima serta prosedur perakitan dan pengujian dapat diulang dan dapat diandalkan. Anda juga harus menyetujui bahwa kinerja dan kualitas produk akhir memenuhi standar Anda. Jangan menunggu sampai Produksi Massal untuk memeriksa ini – ini sudah terlambat.

Proses Produksi

Tahap paling menakutkan namun paling menggembirakan adalah Proses produksi Massal produk Anda. Tentu saja “Mass” adalah istilah relatif dan spesifik untuk produk dan pasar Anda tentang seberapa besar ukuran industri Anda.

Namun, ketika sebuah produk mencapai target produksi, itu berarti Anda memproduksi dan menjual versi produk Anda yang siap untuk pelanggan dengan jumlah yang tepat.

Sekali lagi, ini tergantung pada produk dan pasar Anda pada seberapa besar dan seberapa sering setiap produksi dibuat, tetapi lebih sering daripada tidak, sebuah produk diproduksi dalam beberapa batch dari waktu ke waktu dengan setiap batch meningkat dalam ukuran volume.

Pada tahap ini, sebagian besar tanggung jawab ada pada produsen untuk mendapatkan suku cadang, merakit, dan mengujinya untuk memenuhi permintaan produksi Anda. Namun, Anda tetap memiliki tanggung jawab untuk memastikan kualitas dan hasil produksi tetap tinggi sementara biaya mulai menurun.

Anda harus mendukung pabrikan seperlunya untuk mencapai tujuan ini. Ini mungkin termasuk bekerja dengan tim pengadaan untuk membangun rantai pasokan yang kuat untuk menjaga biaya dan waktu tunggu tetap rendah, atau bekerja dengan tim manufaktur untuk terus mencari cara untuk meningkatkan efisiensi, meningkatkan hasil, dan menurunkan biaya produksi.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai