Andalan

Data Diri

Hai! Perkenalkan nama saya Ridho Fathoni M, saya sekarang bersekolah di SMK Telekomunikasi Tunas Harapan Kab.Semarang, alamat rumah di Dk. Plembon Rt 01 Rw 02, Ds. Ketandan, Kec. Klaten Utara, Kab. Klaten, saya lahir pada tanggal 14 Mei 2003

Be yourself; Everyone else is already taken.

— Oscar Wilde.

This is the first post on my new blog. I’m just getting this new blog going, so stay tuned for more. Subscribe below to get notified when I post new updates.

Kesesuaian Hasil Produk Dengan Rancangan

A. Pengertian Standar Nasional Indonesia

Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah standar yang ditetapkan oleh

Badan Standardisasi Nasional dan berlaku secara nasional. 21 Badan Standardisasi

Nasional (BSN) merupakan lembaga pemerintah non-kementerian Indonesia dengan tugas pokok mengembangkan dan membina kegiatan standardisasi di Indonesia. Badan ini menggantikan fungsi dari Dewan Standardisasi Nasional (DSN). 22 KAN mempunyai tugas menetapkan akreditasi dan memberikan pertimbangan serta saran kepada BSN dalam menetapkan sistem akreditasi dan sertifikasi. Sedangkan pelaksanaan tugas dan fungsi BSN di bidang Standar Nasional untuk Satuan Ukuran dilakukan oleh Komite Standar Nasional untuk Satuan Ukuran (selanjutnya disingkat KSNSU).

Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah satu-satunya standar yang

berlaku secara nasional di Indonesia.SNI dirumuskan oleh Panitia Teknis dan ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional. Agar Standar Nasional Indonesia(SNI) memperoleh keberterimaan yang luas antara para stakeholder, maka Standar Nasional Indonesia (SNI) dirumuskan dengan memenuhi WTO Code of good practice, yaitu

  1. Openness (keterbukaan): Terbuka bagi agar semua stakeholder yangberkepentingan dapat berpartisipasi dalam pengembangan Standar Nasional Indonesia (SNI);
  2. Transparency (transparansi): Transparan agar semua stakeholder yang berkepentingan dapat mengikuti perkembangan Standar Nasional Indonesia (SNI) mulai dari tahap pemrograman dan perumusan sampai ke tahap penetapannya. Dan dapat dengan mudah memperoleh semua informasi yangberkaitan dengan pengembangan Standar Nasional Indonesia (SNI);
  3. Consensus and impartiality (konsensus dan tidak memihak): Tidak memihak dan konsensus agar semua stakeholder dapat menyalurkan kepentingannya dan diperlakukan secara adil;
  • Effectiveness and relevance: Efektif dan relevan agar dapat memfasilitasi perdagangan karena memperhatikan kebutuhan pasar dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
  • Coherence: Koheren dengan pengembangan standar Internasional agar perkembangan pasar negara kita tidak terisolasi dari perkembangan pasar global dan memperlancar perdagangan Internasional;
  • Development dimension (berdimensi pembangunan): Berdimensi pembangunan agar memperhatikan kepentingan publik dan kepentingan nasional dalam meningkatkan daya saing perekonomian nasional.

B. Manfaat Standar Nasional Indonesia

1. Dari sisi produsen Terdapat kejelasan target kualitas produk yang harus  

    dihasilkan sehingga terjadi persaingan yang lebih adil;

2. Dari sisi konsumen Universitas Sumatera Utara 22 Dapat mengetahui 

    kualitas produk yang ditawarkan sehingga dapat melakukan evaluasi baik

    terhadap kualitas maupun harga;

3. Dari sisi pemerintah Dapat melindungi produk dalam negeri dari produk-

    produk luar yang murah tapi tidak terjamin kualitas maupun keamanannya,

   dan meningkatkan keunggulan kompetitif produk dalm negeri di pasaran

   Internasional.

C. Tujuan Standar Nasional Indonesia

a. Bahwa dalam rangka mendukung peningkatan produktivitas, daya guna

          produksi, mutu barang, jasa, proses, sistem dan/atau personel, yang     

          dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing, perlindungan konsumen,  

          pelaku usaha, tenaga kerja dan masyarakat khususnya di bidang

          keselamatan, keamanan, kesehatan dan lingkungan hidup, maka efektivitas  

          pengaturan di bidang standardisasi perlu lebih ditingkatkan;

b. Bahwa Indonesia telah ikut serta dalam persetujuan pembentukan

    pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization)

    yang didalamnya mengatur pula masalah standardisasi berlanjut dengan   

    kewajiban untuk menyesuaikan peraturan perundang-undangan nasional di  

    bidang standardisasi.          

C. Kriteria Standar Nasional Indonesia

  1. Mengisi Formulir Permohonan SPPT SNI

Daftar isian permohonan SPPT SNI dilampiri:

  • Fotokopi Sertifikasi Sistem Manajemen Mutu SNI 19-9001-2001 (ISO 9001:2000) yang dilegalisir. Sertifikasi tersebut diterbitkan Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu (LSSM) yang diakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN).
  • Jika berupa produk impor perlu dilengkapi sertifikat dari LSSM negara asal dan yang telah melakukan Perjanjian Saling Pengakuan (Mutual Recognition Arrangement/MRA) dengan KAN. Proses pada tahap pertama ini biasanya berlangsung selama satu hari.
  • Verifikasi Permohonan

LSPro-Pustan melakukan verifikasi meliputi : semua persyaratan untuk SPPT SNI, jangkauan lokasi audit, kemampuan memahami bahasa setempat (jika ada kesulitan, perlu penerjemah bahasa setempat untuk audit kesesuaian). Selanjutnya akan terbit biaya (invoice) yang harus dibayar produsen. Proses verifikasi perlu waktu satu hari.

  • Audit Sistem Manajemen Mutu Produsen

Audit Kecukupan (tinjauan dokumen): Memeriksa kelengkapan dan kecukupan dokumen sistem manajemen mutu produsen terhadap persyaratan SPPT SNI. Bila hasilnya ditemukan ketidaksesuaian kategori mayor maka permohonan harus melakukan koreksi dalam jangka waktu dua bulan. Jika koreksi produsen tidak efektif, permohonan SPPT SNI akan ditolak.

Audit Kesesuaian: Memeriksa kesesuaian dan keefektifan penerapan Sistem Manajemen Mutu di lokasi produsen. Bila hasilnya ditemukan ketidaksesuaian, pemohon harus melakukan koreksi dalam jangka waktu dua bulan. Jika tindakan koreksinya tidak efektif, maka LSPro-Pustan Deperin akan melakukan audit ulang. Bila hasil audit ulang tidak memenuhi persyaratan SNI, pemohonan SPPT SNI produsen ditolak. Proses audit biasanya perlu waktu minimal lima hari

.

  • Pengujian Sampel Produk

Jika diperlukan pengambilan sampel untuk uji laboratorium, pemohon menjamin akses Tim Asesor dan Petugas Pengambil Contoh (PPC) untuk memperoleh catatan dan dokumen yang berkaitan dengan Sistem Manajemen Mutu. Sebaliknya, LSPro-Pustan Deperin menjamin para petugasnya ahli dibidang tersebut.

Pengujian dilakukan di laboratorium penguji atau lembaga inspeksi yang sudah diakreditasi. Jika dilakukan di laboratorium milik produsen, diperlukan saksi saat pengujian. Sampel produk diberi Label Contoh Uji (LCU) dan disagel. Proses ini butuh waktu minimal 20 hari kerja.

  • Penilaian Sampel Produk

Laboratorium penguji menerbitkan Sertifikasi Hasil Uji. Bila hasil pengujian tidak memenuhi persyaratan SNI, pemohon diminta segera melakukan pengujian ulang. Jika hasil uji ulang tak sesuai persyaratan SNI, permohonan SPPT SNI ditolak.

  • Keputusan Sertifikasi

Seluruh dokumen audit dan hasil uji menjadi bahan rapat panel Tinjauan SPPT SNI LSPro-Pustan Deperin. Proses penyiapan bahan biasanya perlu waktu tujuh hari kerja, sementara rapat panel sehari.

  • Pemberian SPPT-SNI

LSPro-Pustan melakukan klarifikasi terhadap perusahaan atau produsen yang bersangkutan. Proses klarifikasi ini perlu waktu empat hari kerja. Keputusan pemberian sertifikat oleh Panel Tinjauan SPPT SNI didasarkan pada hasil evaluasi produk yang memenuhi: kelengkapan administrasi (aspek legalitas), ketentuan SNI, dan proses produksi serta sistem manajeman mutu yang diterapkan dapat menjamin konsistensi mutu produk. Jika semua syarat terpenuhi, esoknya LSPro-Pustan Deperin menerbitkan SPPT SNI untuk produk pemohon.

Menganalisis Prosedur Pengujian Kesesuaian Fungsi Produk Barang/Jasa

Dasar pengujian

Paket software prototype diuji, diimplementasikan, dievaluasi dan dimodifikasi berulang-ulang hingga dapat diterima pemakainya (O’Brien, 2005). Pengujian system bertujuan menemukan kesalahan-kesalahan yang terjadi pada system dan melakukan revisi sistem. Tahap ini penting untuk memastikan bahwa sistem bebas dari kesalahan (Mulyanto, 2009).

Menurut Sommerville (2001) pengujian sistem terdiri dari :

Pengujian unit untuk menguji komponen individual secara independen tanpa komponen sistem yang lain untuk menjamin sistem operasi yang benar.

Pengujian modul yang terdiri dari komponen yang saling berhubungan.

Pengujian sub sistem yang terdiri dari beberapa modul yang telah diintegrasikan.

Pengujian sistem untuk menemukan kesalahan yang diakibatkan dari interaksi antara subsistem dengan interfacenya serta memvalidasi persyaratan fungsional dan non fungsional.

Pengujian penerimaan dengan data yang dientry oleh pemakai dan bukan uji data simulasi.

Dokumentasi berupa pencatatan terhadap setiap langkah pekerjaan dari awal sampai akhir pembuatan program.

Pengujian sistem informasi berbasis web dapat menggunakan teknik dan metode pengujian perangkat lunak tradisional. Pengujian aplikasi web meliputi pengujian tautan, pengujian browser, pengujian usabilitas, pengujian muatan, tegangan dan pengujian malar  (Simarmata, 2009).

Penerimaan pengguna (user) terhadap sistem dapat dievaluasi dengan mengukur kepuasan user terhadap sistem yang diujikan. Pengukuran kepuasan meliputi tampilan sistem, kesesuaian dengan kebutuhan user, kecepatan dan ketepatan sistem untuk menghasilkan informasi yang diinginkan user. Ada beberapa model pengukuran kepuasan user terhadap sistem, diantaranya adalah Technology Acceptance Model (TAM), End User Computing (EUC) Satisfaction, Task Technology Fit (TTF) Analysis dan  Human Organizational Technology (HOT) Fit Model.

Salah satu model pengukuran yang telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa berbeda dan tidak menunjukkan perbedaan hasil pengukuran yang signifikan adalah End User Computing (EUC) Satisfaction. Model ini menekankan kepuasan user terhadap aspek teknologi meliputi aspek isi, keakuratan, format, waktu dan kemudahan penggunaan sistem (Chin & Mathew, 2000).

Proses Pengujian Produk Baru

Pengujian produk baru bertujuan untuk memberikan penilaian yang lebih rinci tentang peluang sukses produk baru, mengidentifikasi berbagai penyesuaian akhir yang diperlukan untuk produk, dan menetapkan berbagai elemen penting dalam program pemasaran yang akan dipakai untuk memperkenalkan produk dipasar. Secara umum, terdapat 4 (empat) kegiatan dalam pengujian produk baru, yaitu sebagai berikut :

Technical Testing (Pengujian Teknis)

Yaitu dengan cara membuat prototipe yang merupakan approximation (perkiraan) produk akhir. Pengujian atas kinerja produk prototipe dapat menghasilkan sejumlah informasi penting tentang product shelf life (usia pajang produk), tingkat keusangan produk, masalah yang timbul dari pemakaian atau konsumsi yang tidak seharusnya, potensi kerusakan yang memerlukan penggantian, dan jadwal pemeliharaan yang tepat. Masing-masing dari jenis informasi tersebut dapat mempunyai dampak biaya terhadap pemasaran produk. Contohnya seperti estimasi usia pajang produk bisa berpengaruh terhadap frekuensi dan biaya pengiriman. Lalu kemungkinan adanya masalah penggunaan yang signifikan dapat mengakibatkan perlunya tambahan informasi labeling, periklanan, dan sebagainya.

Pengujian Preference and Satisfaction Testing (Preferensi dan Kepuasan)

Dipakai untuk menetapkan elemen-elemen yang akan dirancang dalam rencana pemasaran serta untuk membuat tafsiran penjualan awal produk baru. Secara umum terdapat dua cara utama yang dibutuhkan dalam tipe pengujian ini, yaitu pertama meminta konsumen untuk menggunakan sebuah produk selama jangka waktu tertentu, dan kemudian mereka diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan preferensi serta kepuasan mereka. Kedua, melaksanakan “blind test” yang sedemikian rupa sehingga konsumen dapat membandingkan berbagai macam alternatif produk tanpa mengetahui nama merek atau produsennya.

Pada dasarnya, pengujian preferensi dan kepuasan akan memberikan sejumlah manfaat pokok, antara lain sebagai berikut :

Uji preferensi aktual dan uji teknis bisa memberikan dasar klaim yang obyektif untuk keperluan promosi, terlebih apabila perusahaan ingin menyajikan superioritas dalam hal persepsi konsumen atas keunggulan spesifik pada produk perusahaan dari pada pesaing.

Estimasi tingkat pembelian ulang sangat penting untuk memperkirakan pangsa pasar jangka panjang. Oleh karena itu hasil yang kurang bagus pada uji ini dapat berakibat pada pembatalan peluncuran produk maupun perancangan ulang produk baru.

Meskipun penerimaan pasar atas produk baru ditentukan oleh semua elemen program pemasaran, tetapi berbagai kasus menunjukkan bahwa skor yang tinggi dalam dimensi kinerja produk menggambarkan bahwa ide produk yang bersangkutan sebaiknya dilanjutkan pada tahap pengembangan produk baru selanjutnya.

Uji preferensi pada umumnya dapat memberikan signal awal terbaik terhadap kemungkinan terjadinya kanibalisasi produk.

Simulated Test Markets atau Laboratory Test Markets (Pengujian Pasar Simulasi)

Yaitu prosedur riset pemasaran yang dibuat untuk memberikan gambaran yang murah dan cepat tentang pangsa pasar yang bisa diharapkan dari produk baru. Beberapa model yang dapat dipakai antara lain BASES, DESIGNOR, ASSESSOR, dan LITMUS.

Test Markets (Pengujian Pasar)

Yaitu perusahaan akan menawarkan sebuah produk untuk dijual diwilayah pasar terbatas yang sebisa mungkin dapat mewakili keseluruhan pasar dimana produk itu nantinya akan dijual. Secara prinsip, terdapat perbedaan yang signifikan antara metode pengujian pasar untuk produk konsumen dan produk bisnis/industrial. Didalam pengujian produk konsumen, perusahaan akan berusaha mengestimasi empat variabel, yakni product trial (percobaan produk), first repeat (pengulangan pembelian pertama), adopsi produk, serta frekuensi pembelian. Tentunya perusahaan menginginkan bahwa semua variabel-variabel tersebut menunjukkan tingkat yang tinggi.

Metode pokok untuk menguji pasar produk konsumen, adalah sebagai berikut :

Sales Wave Research

Dalam metode sales wave research, konsumen yang pada awalnya mencoba sebuah produk secara gratis ditawarka lagi produk tersebut atau produk pesaing, dengan harga yang lebih murah. Kemudian perusahaan akan memperhatikan berapa kali konsumen memilih produk perusahaan serta tingkat kepuasan mereka. Metode ini juga mencakup usaha untuk mempresentasikan pada konsumen satu ataupun beberapa konsep iklan dalam bentuk kasar untuk mengamati dampaknya terhadap pembelian ulang.

Simulated Test Marketing

Metode ini memerlukan 30 sampai 40 pembeli yang qualified dipusat pertokoan ataupun tempat-tempat lainnya. Perusahaan akan menanyakan beberapa hal kepada mereka, berhubungan dengan awareness dan preferensi mereka terhadap berbagai merek pada jenis produk tertentu. Mereka bisa saja diundang untuk menyaksikan iklan singkat, termasuk didalamnya yang sudah terkenal ataupun yang masih baru. Lalu dalam penayangan iklan tersebut disisipkan iklan produk baru. Kemudian konsumen akan diberi sejumlah uang lalu diminta untuk datang ke sebuah toko khusus dimana mereka bisa membelanjakan uang yang sudah diberikan tersebut sesuai kebutuhan.

Perusahaan lalu mengamati dan memperhatikan jumlah konsumen yang membeli merek baru dan merek pesaing. Data ini akan memberikan gambaran tentang efektivitas iklan mereka atas iklan pesaing. Konsumen lalu diminta mengutarakan alasan-alasan mereka membeli ataupun tidak membeli. Lalu kemudaian beberapa minggu setelah itu mereka akan diwawancarai kembali melalui telepon untuk menentukan sikap mereka atas produk tersebut, kepuasannya, penggunaannya, dan minatnya untuk membeli kembali, dan ditawari kesempatan untuk membeli kembali produk yang bersangkutan.

Controlled Test Marketing

Metode ini memungkinkan perusahaan untuk menguji pengaruh faktor dalam toko dan iklan terbatas pada perilaku pembelian konsumen tanpa harus melibatkan konsumen itu sendiri secara langsung. Sampel konsumen akan diwawancarai untuk mendapatkan kesan mereka terhadap produk yang bersangkutan. Perusahaan tidak harus memberikan potongan penjualan, memakai wiraniaga mereka sendiri, atau`membeli jaringan distribusi. Tetapi metode ini tidak dapat memberikan informasi tentang cara membujuk distributor agar mau menjual produk baru perusahaan.

Test Markets

Uji pasar adalah cara utama dalam menguji sebuah produk baru dalam situasi yang sama dengan yang nantinya akan dihadapi dalam peluncuran produk yang bersangkutan. Perusahaan umumnya akan bekerja sama dengan perusahaan riset dalam menentukan kota dimana wiraniaga perusahaan nantinya akan mencoba membujuk para distributor agar bersedia untuk menjual produk perusahaan. Perusahaan melakuan promosi dan periklanan sama dengan yang akan dilaksanakan dalam pemasaran secara nasional. Biaya yang nantinya dibutuhkan tergantung pada jumlah kota, lama pengujian, serta jumlah data yang diinginkan perusahaan.

Melalui uji pasar akan didapatkan beberapa manfaat, diantaranya adalah memberikan prediksi yang dapat diandalkan tentang penjualan dimasa yang akan datang, pengujian awal terhadap rencana pemasaran, mengetahui kekurangan produk, mendapat gambaran berbagai masalah potensial dalam jaringan distribusi, dan mendapat pemahaman lebih baik mengenai perilaku berbagai segmen pasar.

Sementara, produk bisnis juga mendapatkan manfaat dari uji pasar, dimana pengujiannya bervariasi tergantung dari jenis barangnya. Barang industri yang mahal dan memakai teknologi baru pada umumnya menjalani pengujian Alpha dan Beta. Pengujian Alpha ialah pengujian produk dengan tujuan mengukur serta meningkatkan kinerja, rancangan, keandalan, dan biaya operasi produk. Apabila hasil pengujian alpha baik, maka perusahaan akan melanjutkannya dengan melakukan pengujian Beta dengan mengundang para konsumen potensial agar dapat melaksanakan pengujian secara rahasia ditempat mereka sendiri.

Metode uji pasar lainnya ialah memperkenalkan produk bisnis baru dalam pameran dagang. Produk baru industrial juga dapat diuji ditempat pajangan distributor atau dealer. Cara lain yang bisa ditempuh ialah uji pemasaran, dimana perusahaan membuat pasokan produk dengan jumlah terbatas dan diserahkan pada wiraniaga untuk dijual didaerah geografis yang terbatas dengan dukungan katalog, promosi, dan sebagainya. Melalui cara demikian, manajemen akan dapat mempelajari apa saja yang mungkin terjadi dalam pemasaran dengan skala penuh serta memberikan informasi yang lebih lengkap dalam memutuskan komersialisasi produk yang bersangkutan.

Fungsi pengujian produk /jasa

Tujuan tahap ini adalah untuk :  

memberikan penilaian yang lebih rinci mengenai peluang sukses produk baru,

mengidentifikasi penyesuaian-penyesuaian akhir yang dibutuhkan untuk produk,

menetapkan elemen-elemen penting dalam program pemasaran yang akan digunakan untuk memperkenalkan produk di pasar.

Menerapkan Metode Perakitan Produk Barang/Jasa

  1. Pengertian Perakitan Produk

Perakitan adalah proses penyusunan dan penyatuan beberapa bagian komponen menjadi suatu alat atau mesin yang mempunyai fungsi tertentu. Perakitan dimulai bila obyek sudah siap untuk dipasang dan berakhir bila obyek tersebut telah bergabung secara sempurna.

Pada prinsipnya perakitan dalam proses manufaktur terdiri dari pasangan semua bagian-bagian komponen menjadi satu produk, proses pengencangan, proses inspeksi dan pengujian fungsional, pemberian nama atau lebel, pemisahan hasil perakitan yang baik dan hasil perakitan yang buruk, serta pengepakan dan penyiapan untuk pemakaian akhir.

Perakitan merupakan proses khusus bila dibandingkan dengan proses manufaktur lainnya, misalnya proses permesinan ( frais, bubut, bor, dan gerinda ) dan pengelasan sebagian pelaksanaannya hanya meliputi satu proses saja.

  1. Metode Perakitan Produk

Dalam perakitan terdapat beberapa metode yang dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan. Metode-metode tersebut, diantaranya :

  1. Metode Perakitan yang Dapat Ditukar-tukar

Pada metode ini, bagian yang akan dirakit dapat ditukarkan satu sama lain (interchangeable), karna bagian tersebut dibuat suatu pabrik secara massal dan sudah di standarkan, baikan menurut ISO, DIN, JIS, dan lain sebagainya.

  1. Perakitan dengan Pemilihan

Pada metode ini, komponen-komponennya juga dihasilkan dengan produksi massal yang pengukurannya tersendiri menurut batasan-batasan ukuran.

  1. Perakitan secara Individual

Pada metode ini, pengerjaannya tidak dapat dipisahkan antara pasangan satu dengan pasangannya. Karena dalam pengerjaannya harus berurutan bergantung bagian yang sebelumnya.

Jenis-jenis Perakitan

Ada beberapa macam jenis perakitan yang bergantung dari produknya, yaitu sebagai berikut:

  1. Perakitan Manual, yaitu perakitan yang sebagian besar proses dikerjakan secara konvensional atau menggunakan tenaga manusia dengan peralatan yang sederhana tanpa alat-alat bantu yang spesifik atau khusus.
  2. Perakitan otomatis, yaitu perakitan yang dikerjakan dengan system otomatis seperti otomasi, elektronik, mekanik, gabungan mekanik dan elektronik (mekatronik), dan membutuhkan alat bantu yang lebih khusus.
  3. Jenis perakitan tunggal, yaitu perakitan dengan produk hanya dengan satu jenis.
  4. Jenis perakitan produk seri, adalah jika perakitan dilakukan dalam jumlah massal dalam bentuk dan ukuran yang sama.

2. Pengelompokkan Alat dan Bahan

Pengelompokkan alat berdasarkan penggunaannya, yaitu:

  1. Peralatan yang digunakan secara berulang-ulang.
  2. Peralatan yang sekali pakai langsung ganti.
  3. Peralatan yang hanya beberapa kali pakai lalu ganti.
  4. Peralatan yang digunakan sewaktu-waktu ( peralatan pendukung dan pelengkap )

Peralatan yang harus diklasifikasi dalam perakitan produk agar berjalan dengan lancar serta baik dan tanpa ada hambatan harus disiapkan, ai antaranya :

  1. Peralatan utama, alat yang terkait langsung dengan perakitan produk.
  2. Peralatan pendukung, alat yang tidak secara langsung terkait, namun tetap dibutuhkan.
  3. Peralatan pelengkap, alat yang diperlukan hanya untuk melengkapi, namun terkadang tidak diperlukan.

Bahan Produksi

Bahan produksi dikelompokkan, yaitu

  1. Bahan primer, bahan utama dalam pembuatan produk yang tidak bisa digantikan dengan bahan lainnya.
  2. Bahan sekunder, bahan yang bisa diganti dengan bahan lainnya jika bahan yang diperlukan tidak ada.
  3. Bahan tersier, bahan pelengkap yang diperlukan namun tidak begitu penting kalaupun tidak ada bahannya.

3. Bahan Utama dan Bahan Pendukung

Bahan baku

Bahan baku adalah bahan mentah yang digunakan sebagai dasar untuk pembuatan suatu produk, dimana bahan tersebut diolah kembali melalui proses tertentu untuk dibuat menjadi bentuk yang lain. Menurut Mulyadi, bahan baku adalah bahan yang membentuk bagian integral dari produk jadi.

Gunawan Adisaputro dan Marwan Asri membagi jenis bahan baku, yaitu sebagai berikut :

  1. Bahan baku langsung (Direct Material) yaitu bahan baku dari barang jadi yang dihasilkan.
  2. Bahan baku tidak langsung (Indirect Material) yaitu bahan baku yang memiliki peran dalam proses produksi tapi tidak langsung terlihat pada barang jadi yang dibuat.

Adapun kriteria dari bahan baku, meliputi :

  1. Fungsi : jika bahan tidak tersedia maka produk tidak dapat dihasilkan atau tidak dapat berfungsi.
  2. Penggunaan : memiliki porsi yang lebih dominan daripada bahan yang lain.
  1. Bahan Penolong

Bahan penolong merupakan barang yang dimanfaatkan dalam proses produksi, tetapi bukan merupakan bagian dari bahan baku utama untuk produk yang dihasilkan.

Kriteria bahan penolong meliputi segi :

  1. Fungsi : tanpa adanya bahan ini, produk masih bisa dihasilkan, meskipun hasil jadi tidak sesuai dengan harapan dan fungsinya.
  2. Penggunaan : memiliki porsi yang kecil dari keseluruhan bahan yang dipakai.

4. Alat Bantu

  1. Peralatan pendukung, alat yang tidak secara langsung terkait, namun tetap dibutuhkan.
  2. Peralatan pelengkap, alat yang diperlukan hanya untuk melengkapi, namun terkadang tidak diperlukan.

5. Standar Alat dan Bahan yang Digunakan

seorang wirausaha harus bisa menyusun daftar peralatan bahan produksi apa saja yang dibutuhkan secara tepat dan akurat agar ketika perakitan berjalan dengan lancer dan baik.

Menerapkan Produksi Massal

  1. Pengertian Produksi Massal

Sebuah kegiatan yang dilakukan secara berulang dalam membuat suatu produk dalam jumlah yang banyak merupakan produksi secara massal.

Produsen akan melakukan kegiatan produksi ini secara terus menerus guna menjalankan sistem produksi dan memenuhi kebutuhan pasar. Dan memfasilitasi kebutuhan masyarakat akan suatu barang atau produk.

Fokus dari produksi dalam jumlah banyak ini sebagai suatu cara untuk meningkatkan efisiensi produsen dalam melakukan kegiatan produksi yang disesuaikan dengan standar serta prosedur. Dan hal tersebut dilakukan guna menciptakan suatu barang secara banyak dalam satu waktu.

Dalam menjalankan proses produksi, sebuah perusahaan akan melakukannya terus menerus dengan jumlah yang banyak. Dalam pengadaan barang atau produk selain memakai jasa pekerja juga memakai kecanggihan teknologi. Misalnya sebuah perusahaan yang menghasilkan produk permen, maka dibutuhkan bantuan mesin untuk memperbanyak produk.

Dalam kegiatan produksinya terukur dan terarah, yaitu dalam satu hari menghasilkan jumlah yang sama dengan sistem dan standar yang sudah ditentukan. Seperti memproduksi boneka, maka dalam satu hari bisa menghasilkan boneka dengan sebelumnya dilakukan uji keamanan dan kelayakan untuk anak-anak.

Banyak aturan yang dilakukan dalam menghasilkan produksi dalam jumlah banyak ini, karena perusahaan tentu mengutamakan mutu dan kualitas suatu produk yang akan dihasilkan. Dengan memahami pengertian tersebut maka selanjutnya perlu memahami tahapan apa saja yang dilakukan dalam proses produksi massal.

2. Klasifikasi Produksi Massal

a. Barang Konsumen

Barang Konsumen adalah barang yang dikonsumsi untuk kepentingan konsumen akhir (individu atau rumah tangga), dan bukan untuk kepentingan bisnis, barang konsumen dapat dibedakan menjadi empat jenis yaitu:

  1. Convenience Goods merupakan barang yang pada umumnya memiliki frekuensi pembelian yang tinggi (sering dibeli), dibutuhkan dalam waktu segera dan memerlukan usaha yang minimum dalam perbandingan dan pembelianya. 
  2. Shooping Goods adalah barang yang proses pemilihan dan pembelianya, dibandingkan oleh konsumen diantara berbagai alternatif yang tersedia. Kriteria pembanding meliputi harga, kualitas, dan model masing-masing. Contohnya: alat rumah tangga, pakaian, dan kosmetik.
  3. Speciality goods adalah barang yang memiliki karakteristik atau identifikasi merek yang unik dimana sekelompok konsumen bersedia melakukan usaha khusus untuk membelinya. Umumnya jenis barang ini terdiri atas barang-barang mewah, dengan merek dan model yang spesifik, seperti mobil jaguar dan pakaian desain terkenal.
  4. Unsought goods adalah barang yang tidak diketahui oleh onsumen atau kalaupun sudah diketahui oleh konsumen,  konsumen belum tentu tertarik untuk membelinya. Contohnya: batu nisan, ensiklopedi, dan tanah pekuburan.
b. Barang industri

Barang industri adalah barang yang di konsumsi oleh industriawan (konsumen antara atau konsumen bisnis). Barang industri digunakan untuk keperluan selain di konsumsi langsung yaitu: untuk diolah menjadi barang lain atau untuk dijual kembali. Barang industri dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu:

  1. Material and part, merupakan barang yang seluruhnya atau sepenuhnya masuk ke dalam produk jadi. Kelompok ini dibagi menjadi dua kelas yaitu bahan baku serta bahan jadi dan suku cadang.
  2. Capital Items, merupakan barang tahan lama (long Lasting) yang memberi kemudahan dalam mengembangkan atau mengelola produk jadi.
  3. Supplies and service, merupakan barang yang tidak tahan lama serta jasa yang memberi kemudahan dalam mengembangkan atau mengelola keseluruhan produk jadi.

3. Cara Penerapan Produksi Massal

1. Menentukan ide Produk

Tahap produksi pertama yang harus dilakukan adalah menentukan jenis-jenis produk yang akan diciptakan. Kumpulkan beberapa sampel yang didapat dari hasil musyawarah dengan rekan kerja, maupun potensi yang dirasa akan mampu berkembang pesat. Selain itu, Jenis-Jenis yang dikumpulkan juga harus sesuai dengan Modal usaha yang ada, serta bagaimana pandangan masyarakat di daerah tempat usaha terhadap produk tersebut nantinya. Misalkan anda akan buka usaha jualan minuman jus buah. Nah, pilih jenis buah yang potensial dan dirasa akan laku keras. Tolok ukur pemilihan jenis produk juga bisa berdasarkan keadaan cuaca, iklim dan kompetitor yang ada.

Karena umumnya, cuaca dan iklim sangat Berpengaruh terhadap minat beli dari konsumen, sebab jika musim hujan, tentu penjual jus buah / aneka minuman akan sedikit mengalami hambatan penjualan.

Untuk tolok ukur dari segi internal, pertimbangan yang bisa dijadikan acuan adalah :

  • Kebutuhan Konsumen
  • Teknologi peralatan produksi
  • Koordinasi dengan rekan kerja

Jika beberapa jenis buah untuk diproduksi telah ditentukan, saatnya melangkah ke tahap perencanaan produksi selanjutnya.

2. Memilih yang paling cocok

Selanjutnya adalah menentukan 1 ide yang paling relevan berdasarkan tolok ukur diatas tadi. Disini berarti anda harus menentukan jenis-jenis buah apa saja yang akan dibeli ke pemasok.

Pada tahap ini, juga memiliki beberapa tolok ukur, antara lain :

  • Kemampuan Operasional
  • Pembelian bahan baku
  • Anggaran biaya Pemasaran sekitar lokasi pasar

Gabungkan ke-3 tolok ukur diatas untuk mendapatkan jawaban yang spesifik dan relevan.
Mulai dari kemampuan operasional, bagaimana anda dan rekan kerja mampu menghasilkan jus buah yang akan digemari.

Begitu juga dengan pembelian bahan baku yakni Buah-buahan, harus disesuaikan dengan budget yang ada.

Juga biaya pemasaran, seperti biaya cetakan kemudian menyebar Pamflet di sekitar pasar / lokasi usaha, dengan menempel di beberapa tempat yang ramai.

3. Prototipe

Pengertian prototipe adalah penganalisaan produk jadi yang telah dihasilkan. Jus buah yang sudah siap produksi harus diuji dulu, baik dari segi kemasan dan rasanya.

Tujuannya untuk mengetahui apa saja kelemahan dan kelebihan minuman tersebut.

Jika ditemukan kekurangan, perbaiki secepatnya. Selain itu, untuk mengupayakan bagaimana supaya produk anda mampu bersaing dengan kompetitor yang tentunya sudah berpengalaman.

Oleh karena itu, anda diusahakan menciptakan produk minuman yang unik, berbeda dan menarik, namun tidak melenceng dari hakikat sebuah minuman jus buah, supaya konsumen anda tidak merasa aneh nantinya.

4. Testing

Tahap Perencanaan Produksi selanjutnya yakni melakukan pengetesan kelayakan terhadap produk, setelah melakukan analisis produk jadi pada tahap ke-3.

Disini akan ditemukan hasil baru yang tentunya lebih baik dari sebelumnya.

Pada sesi ini, nantinya akan didapatkan krputusan tentang kelayakan produk, apakah pantas atau tidak untuk diperjualbelikan secara umum.

5. Final Design

Setelah proses testing selesai, Tahap Perencanaan Produksi Produk selanjutnya yakni menilai bentuk desain, mulai dari kemasan dan pendukung lainnya.

Semua harus sesuai dan relevan dengan perencanaan yang disusun di awal.

6. Implementation

Yang ke-6 adalah Penerapan (implementasi). Ini adalah Tahap produksi terakhir. Setelah dilakukan penerapan dan dirasa sudah kompleks, maka anda bisa untuk segera melakukan produksi.

4. Rancangan Produksi Massal

  1. Kualitas Produk

Seberapa baik produk yang dihasilkan dari upaya pengembangan dan dapat memuaskan kebutuhan pelanggan. Kualitas produk pada akhirnya akan mempengaruhi pangsa pasar  dan menentukan harga yang ingin dibayar oleh pelanggan.

  1. Biaya Produk

Biaya untuk modal peralatan dan alat bantu serta biaya produksi setiap unit disebut biaya manufaktur dari produk. Biaya produk menentukan berapa besar laba yang dihasilkan oleh perusahaan pada volume penjualan dan harga penjualan tertentu.

  1. Waktu Pengembangan Produk

Waktu pengembangan akan menentukan kemampuan perusahaan dalam berkompetisi,menunjukkan daya tanggap perusahaan terhadap perubahan teknologi dan pada akhirnya akan menentukan kecepatan perusahaan untuk menerima pengembalian ekonomis dari usaha yang dilakukan tim pengembangan.

  1. Biaya Pengembangan

Biaya pengembangan biasanya merupakan salah satu komponen yang penting dari investasi yang dibutuhkan untuk mencapai profit.

5. Tahapan Produksi Massal

Dokumentasi Persyaratan Produk

Manajer Produk bertanggung jawab untuk memimpin dan membuat dokumen ini, tetapi mereka harus meminta masukan dan persetujuan akhir dari semua pemimpin tim lainnya: Teknik, Penjualan, QA, Eksekutif, dan Pemasaran.

Setelah revisi dokumentasi persyaratan produk disetujui oleh semua pimpinan tim ini, hal itu menjadi landasan Anda dan semua keputusan produk selanjutnya harus sesuai dengan apa yang tertulis di  dokumentasi ini.

Anda juga dapat  meratifikasi dan membuat revisi berikutnya saat informasi baru tersedia yang memengaruhi keputusan Anda sebelumnya, tetapi setiap revisi baru harus ditinjau dan disetujui oleh pimpinan tim, juga.

Dokumentasi persyaratan produk atau yang biasa dikenal dengan PRD (Product Requirements Documentation) biasanya terkait dengan:

  • Daftar lengkap fitur yang akan disertakan dalam produk
  • Metrik kinerja spesifik yang harus dipenuhi setiap fitur
  • Perkiraan volume produksi
  • Biaya target
  • Targetkan jadwal rilis produk
  • Roadmap produk

Validasi dan Pengujian Teknik

Berikutnya adalah bagian yang menyenangkan, yang lebih dikenal sebagai validasi dan pengujian teknik atau EVT (Engineering Validation and Testing).

Dalam tahap ini, tim teknik menggunakan cara apa pun yang diperlukan untuk mengimplementasikan setiap fitur yang diuraikan dalam dokumentasi persyaratan produk.

Tujuan dari tahap ini adalah untuk membuktikan bahwa adalah mungkin secara manusiawi, tanpa menentang hukum fisika, untuk merancang dan membangun sebuah instance dari produk yang memenuhi persyaratan fungsional dalam PRD.

Namun perlu diingat bahwa komponen yang dipilih dan proses yang digunakan untuk merakitnya tidak harus sama dengan yang akan digunakan di versi final produk. Selotip dan lem panas boleh digunakan pada tahap ini, selama memungkinkan Anda membuat sesuatu yang berfungsi secara fungsional dan melewati metrik spesifikasi Anda.

Tujuan utama dari Validasi dan Pengujian Teknik adalah untuk mengidentifikasi setiap dan semua risiko dari persyaratan yang diuraikan dalam PRD dan menemukan cara untuk menghilangkan atau menguranginya secara signifikan.

Ini mungkin memerlukan beberapa iterasi dan jutaan dolar dalam penelitian dan pengembangan, tetapi sebuah produk tidak akan meninggalkan tahap EVT sampai semua persyaratan fungsional dan metrik kinerja telah dipenuhi.

Validasi dan Pengujian Desain

Pada tahap validasi dan pengujian desain atau DVT (Design Validation and Testing), tujuannya adalah untuk terus bekerja menuju tampilan dan nuansa akhir produk.

Ini adalah saat Anda mulai memilih bahan dan desain mekanis yang memenuhi persyaratan bentuk akhir, kesesuaian, dan estetika yang diuraikan dalam PRD.

Bahan dan komponen yang dipilih dalam revisi ini merupakan bahan yang dipakai pada versi produksi akhir. Jika memungkinkan, contoh produk Anda yang dibuat dalam tahap DVT dapat ditampilkan kepada calon pelanggan untuk mulai meminta umpan balik dan menguji kesesuaian pasar produk.

Ini sebenarnya adalah poin berharga untuk dilakukan pada tahap ini sebelum Anda mulai menginvestasikan dana modal yang besar untuk bahan, peralatan, dan proses yang diperlukan untuk memulai pembuatan.

Sebuah produk dapat keluar dari tahap DVT setelah ada persetujuan yang dibuat dan memenuhi semua persyaratan fungsional dan estetika di PRD saat menggunakan desain dan komponen kandidat untuk produksi akhir.

Versi ini sebenarnya mungkin sangat dekat dengan implementasi produk akhir Anda dan tidak dapat dibedakan oleh mata yang tidak terlatih, tetapi mungkin dibuat dengan proses produksi dan perakitan dengan volume lebih rendah.

Validasi dan Pengujian Produksi

Sekarang saatnya melepaskan kendali dan terlibat dalam percakapan serius dengan pemasok dan produsen Anda. Ini adalah tahap validasi dan pengujian produksi atau PVT (Production Validation and Testing) atau pre-produksi di mana Anda memastikan bahwa produk DVT Anda sebenarnya dapat diproduksi dengan volume dan biaya target yang tercantum dalam PRD.

Karena lebih sering daripada tidak Anda akan melakukan outsourcing pembuatan dan perakitan produk Anda yang sebenarnya, Anda harus terlibat dengan pemasok ini untuk meminta feedback dari desain Anda untuk memastikan Anda dapat mencapai tujuan produksi.

Mudah-mudahan ini hanya memerlukan beberapa perubahan kecil pada model DVT Anda, seperti mengganti bagian dengan versi yang lebih murah yang kompatibel dengan pin atau sedikit mengubah sudut draf pada bagian mekanis khusus sehingga akan mengeluarkan lebih andal dari alat cetakan injeksi.

Namun, dalam beberapa skenario kasus terburuk, Anda mungkin harus melalui perbaikan besar-besaran atau perubahan desain agar produk Anda siap untuk produksi massal.

Untuk alasan ini, yang terbaik adalah mulai berbicara dengan pemasok Anda jauh sebelum Anda memasuki tahap PVT, sehingga Anda dapat membantu memastikannya akan berhasil dengan memasukkan beberapa Desain untuk Manufaktur, Desain untuk Perakitan, Desain untuk Pengujian. Ini adalah prinsip upstream dalam siklus hidup produk.

Tujuan lain dari tahap PVT adalah untuk mulai memperkuat proses produksi dan menyiapkan rantai pasokan. Cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan membuat proses praproduksi produk Anda menggunakan rantai pasokan dan aset manufaktur yang sebenarnya.

Ini adalah cara terbaik untuk melihat di mana kelemahannya dalam ekosistem produksi Anda dan menentukan apakah Anda siap untuk mulai meningkatkan volume dan meningkatkannya hingga.

Untuk keluar dari PVT, pabrikan harus menandatangani bahwa rantai pasokan sudah diatur. Ini berarti suku cadang dapat dipesan pada waktu tunggu dan harga yang dapat diterima serta prosedur perakitan dan pengujian dapat diulang dan dapat diandalkan. Anda juga harus menyetujui bahwa kinerja dan kualitas produk akhir memenuhi standar Anda. Jangan menunggu sampai Produksi Massal untuk memeriksa ini – ini sudah terlambat.

Proses Produksi

Tahap paling menakutkan namun paling menggembirakan adalah Proses produksi Massal produk Anda. Tentu saja “Mass” adalah istilah relatif dan spesifik untuk produk dan pasar Anda tentang seberapa besar ukuran industri Anda.

Namun, ketika sebuah produk mencapai target produksi, itu berarti Anda memproduksi dan menjual versi produk Anda yang siap untuk pelanggan dengan jumlah yang tepat.

Sekali lagi, ini tergantung pada produk dan pasar Anda pada seberapa besar dan seberapa sering setiap produksi dibuat, tetapi lebih sering daripada tidak, sebuah produk diproduksi dalam beberapa batch dari waktu ke waktu dengan setiap batch meningkat dalam ukuran volume.

Pada tahap ini, sebagian besar tanggung jawab ada pada produsen untuk mendapatkan suku cadang, merakit, dan mengujinya untuk memenuhi permintaan produksi Anda. Namun, Anda tetap memiliki tanggung jawab untuk memastikan kualitas dan hasil produksi tetap tinggi sementara biaya mulai menurun.

Anda harus mendukung pabrikan seperlunya untuk mencapai tujuan ini. Ini mungkin termasuk bekerja dengan tim pengadaan untuk membangun rantai pasokan yang kuat untuk menjaga biaya dan waktu tunggu tetap rendah, atau bekerja dengan tim manufaktur untuk terus mencari cara untuk meningkatkan efisiensi, meningkatkan hasil, dan menurunkan biaya produksi.

Inndikator Keberhasilan Produksi Massal

KEBERHASILAN TERHADAP PRODUKSI MASAL

Seorang wirausaha di dalam menekuni usahanya bertujuan untuk meraih keberhasilan. Sebagai pengelola usaha, wirausaha harus dapat mengorganisasi, memanfaatkan, dan meningkatkan sumber daya yang tersedia sedemikian rupa sehingga mampu bersaing dan berkompetitif dengan pelaku usaha lain serta dapat pula memanfaatkan setiap kesempatan yang ada.

Keberhasilan identik dengan pendapatan, dengan begitu pendapatan merupakan salah satu kriteria bagi kegiatan usaha, yakni dapat dipergunakan untuk menilai keberhasilan usaha atau dapat dikatakan keberhasilan usaha adalah suatu kenyataan persesuaian antara rencana dengan proses pelaksanaannya dan hasil yang dicapai. Keberhasilan usaha harus dinilai sehubungan dengan pencapaian tujuan, yang dimaksud pencapaian tujuan yang popular adalah menghasilkan laba.

Kriteria penting sebagai indikator keberhasilan usaha, yaitu:

  1. Kemampuan menyesuaikan diri
  2. Produktifitas
  3. Kepuasan kerja
  4. Kemampuan mendapatkan laba dan pencarian sumber daya.

A. Kriteria Keberhasilan

Kesuksesan wirausaha disebabkan orientasi pada tindakan yang berada dalam kerangka berpikir wirausaha dimana ide-ide yang timbul dapat segera diterapkan walaupun dalam situasi yang tidak menentu.

Karakteristik berpikir pada tindakan kewirausahaan ada lima, yaitu:

  1. Sangat bersemangat dalam melihat/ mencari peluang-peluang baru
  2. Mengejar peluang dengan disiplin yang ketat
  3. Mengejar peluang yang sangat baik dan menghindari mengejar peluang yang melelahkan diri dan organisasi
  4. Fokus pada pelaksanaan
  5. Mengikutsertakan energy setiap orang yang berada dalam jangkauan mereka.

Ada 8 hal yang membuat usaha atau bisnis meraih kesuksesan atau keberhasilan, yaitu:

  1. Peluang pasar yang baik.
  2. Keunggulan persaingan.
  3. Kualitas barang/jasa.
  4. Inovasi yang berproses.
  5. Dasar budaya perusahaan.
  6. Menghargai pelanggan dan pegawai.
  7. Manajemen yang berkualitas
  8. Dukungan modal yang kuat.

Adapun indikator keberhasilan usaha menurut Suryana keberhasilan usaha terdiri dari

  1. Modal
  2. Pendapatan
  3. Volume Penjualan
  4. Output produksi
  5. Tenaga Kerja

Indikator keberhasilan usaha menurut Dwi Riyanti (2003:28), kriteria yang cukup signifikan untuk menentukan keberhasilan suatu usaha dapat dilihat dari :

  1. Peningkatan dalam akumulasi modal atau peningkatan modal
  2. Jumlah produksi
  3. Jumlah pelanggan
  4. Perluasan usaha
  5. Perluasan daerah pemsaran
  6. Perbaikan sarana fisik dan
  7. Pendapatan usaha

Dapat diketahui bahwa terdapat banyak pendapat dan pandangan mengenai dimensi keberhasilan usaha. Maka dimensi yang digunakan untuk penelitian ini menggunakan pendapat Dwi Riyanti bahwa dimensi keberhasilan usaha yaitu diantarannya adalah Peningkatan dalam akumulasi modal atau peningkatan modal, Jumlah produksi, Jumlah pelanggan, Perluasan usaha, Perluasan daerah pemsaran, Perbaikan sarana fisik dan Pendapatan usaha

Tutorial Konfigurasi WordPress di Debian 8


 * Kemudian ketik Y untuk melanjutkan proses penginstallan

Selamat malam , Pada kesempatan kali ini saya akan membuat tutorial konfigurasi cms wordpress di debian 8.
Ok langsung saja, bahan bahan yang di butuhin yaitu :
1. WinSCP
2. download WordPress

* Sebelum anda mengkonfigurasi cms wordpress, pastikan Dns Server anda sudah di konfigurasi.
* Setelah itu lanjut menginstall apache2 dan php5

* Setelah itu restart apache2


* Lalu cobak di web browser


* Langkah selanjutnya Install phpmyadmin mysql-server dan ssh


* Kemudian ketik Y untuk melanjutkan proses instalasi


* Masukan password untuk akun mysql


* Masukan lagi password


* Kemudian Pilih apache dengan mengeklik spasi


* Setelah itu pilih YES


* Masukan password database


* Masukan lagi password akun mysql


* Kemudian masukan password confirm


* Setelah selesai, masuk ke ssh


* Kemudian untuk melihat isi dari ssh ketik LS lalu enter


* Kemudian edit sshd_config
* hapus yang ada lingkaran merah



* Kemudian ubah menjadi “yes” tidak pake tanda petik, setelah itu save dengan ctrl+y,x enter


* Kemudian restart sshnya



* Kemudian buka wincsp, hostname masukan ip atau nama doimain kemudian username masukan root dan masukan password root nya 


* klik yes untuk melanjutkan


* Kemudian buat directory di dalam /var/www/
* directory bernama www-data, set permissions atur seperti gambar di bawah, setelah itu klik ok
 


* Kemudian upload file wordpress ke directory www-data yang ada di /var/www/www-data, setelah itu klik ok


* Tunggu proses upload selesai



*

Setelah selesai upload, buka directory wordpress yang ada di /var/www/www-data/wordpress lalu enter


* Kemudian ketik ls untuk melihat isi directory wordpress


* Kemudian copy file wp-config-sample.php menjadi wp-config.php


* Kemudian edit wp-config.php, seperti gambar di bawah, lalu save dengan ctrl+x,y lalu enter


* Kemudian masuk ke apache2


* Ketik ls untuk melihat isi dari apache2


* Kemudian edit file apache.conf
* Hapus yang di lingkari garis merah



* Ubah menjadi granted lalu save dengan ctrl+x,y lalu enter


*Kemudian Masuk ke sites-available


* Setelah Masuk sites-available ketik ls untuk melihat isinya


* Kemudian copy 000-default.conf menjadi wordpress.conf



* Setelah selesai mengcopy edit file wordpress.conf
* edit seperti gambar dibawah



* Setelah selesai mengedit disable 000-default.conf



* Dan enable wordpress.conf


* Kemudian Restart apache2 nya

* Cobak di web browser, dan hasil nya Error establishing a database connection kenapa?
 karena database belum di bikin.


* Ketik http://www.sekolah.sch.id/phpmyadmin untuk pembuatan database
* Login username root password qwerty



* Setelah Login, edit seperti di gambar,kemudian klik create



* Setelah itu ketik http://www.sekolah.sch.id
* Isi data data seperti gambar di bawah,lalu klik install wordpress



* Naaaaaa wordpress anda telah selesai di konfigurasi

sumber : https://tkj-inform4si.blogspot.com/2017/02/selamat-sore-pada-kesempatan-kali-ini.html

Introduce Yourself (Example Post)

This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.

You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.

Why do this?

  • Because it gives new readers context. What are you about? Why should they read your blog?
  • Because it will help you focus you own ideas about your blog and what you’d like to do with it.

The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.

To help you get started, here are a few questions:

  • Why are you blogging publicly, rather than keeping a personal journal?
  • What topics do you think you’ll write about?
  • Who would you love to connect with via your blog?
  • If you blog successfully throughout the next year, what would you hope to have accomplished?

You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.

Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.

When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai